Kuliner satu ini sebenarnya sederhana yang bisa menjadi satu tulisan panjang.
Mari Kita mulai dengan pertanyaan mudah. Berapa banyak jenis ayam goreng yang pernah mampir di lidah kita.
Dalam sekejap beberapa nama bermain di kepala.
Ayam goreng bumbu kuning adalah yang pertama nyantol dalam benak.
Ini hidangan paling awal yang hadir di atas meja makan rumah saat kecil dulu. Bumbu kuning yang hadir dari rebusan kunyit plus rajangan bawang putih, menghadirkan wangi yang khas di dapur rumah. Almarhumah mama, dulu menambahkan bawang putih dan sedikit santan lalu diungkep lagi, dari sini hadir sedikit bentuk kremes. Ayam akan berwarna kecoklatan dengan kulit ayam yang jahanam krenyes krenyes.
Belakangan kemiri banyak dipakai untuk menemani ungkepan bumbu. Dan sangat terkenal di rumah makan padang.
Ayam goreng tipe ini beredar dari akhir 70 an lalu mulai awal 80an berhadapan langsung dengan waralaba asing.
Ayam goreng lokal sebenarnya cukup merajai pasar lokal. Di Jakarta, bahkan warung gado gado beken menghadirkan ayam goreng sebagai side dish, entah di sisi mana matchingnya.
Beragam merek hadir mengena di lidah. Sebut saja ayam goreng surabaya, pemuda, mbok berek, ny suharti. Dengan inovasi yang menarik mulai dari goreng garing sampai tulang lunak.
Sampai awal 90an perlahan generasi berubah, dan waralaba asing yang perlahan merajai pasar ayam goreng.
20 tahunan sang ayam goreng lokal terkulai. Memang sempat ada bulungan, hayam wuruk, ny nita, dan wong solo, sekedar menyebut nama yang sempat beredar.
Sampai tibalah masa goreng kremes mengangkat kembali pamor ayam goreng lokal.
Periode goreng kremes itu ditambah kegilaan orang kita pada sambal, membuat keadaan ayam goreng lokal kembali seimbang dengan waralaba asing.
Kombinasi Sambal hijau, sambal gila, dan penyetan membawa ayam goreng lokal ke gerbang bilateral negara tetangga.
Saking bekennya penyetan ini sampai sampai buka resto di lucky plaza singapura, bahkan sang koruptor pajak pun terbius hingga kena cyduk.
Habis penyetan, lahirlah geprekan. Kali ini mutualisma dengan hadirnya ojol, ayam lokal kembali naik panggung. Beberapa artis juga ikut hadir meramaikan peta kuliner geprekan.
Malam ini gw merasakan jahanamnya sambal bawang geprek gembus. Ah jogja memang istimewa. Setelah ny suharti, gembus hadir lebih merakyat. Kombinasi cabe, bawang, dan minyak, menghasilkan kegurihan dan pedas yang pas dan seimbang. Geprek ini menawarkan rasa pedas mampus. Tapi gw lebih suka dengan racikan 4-6 cabai dengan racikan bawangnya.
Memang rasanya tidak adil kalau memuja muji satu jenis geprek saja. Baiklah lain waktu akan gw coba geprek artis, yang istrinya dulu tetangga seberang rumah.
Sekarang saatnya minum teh.
Salam jahanam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here